Sabtu, 08 November 2014

CONTOH MAKALAH ASBABUN NUZUL



ILMU ASBAB AL-NUZUL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu : Hindun Anisah, M.A.




Disusun oleh :
Afiqoh Nailatus Sa’adah
NIM : 1213062






UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA
FAKULTAS SYARI’AH SEMESTER 2 NON REGULER
2014


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan kenikmatan dan pertolongan kepada kita semua, khususnya kepada kami dalam pembuatan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat supaya pembaca dapat mengetahui tentang “Ilmu Asbab Al-Nuzul  yang disajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada kami agar dapat menyelesaikan makalah ini. Harapan kami mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca sekalian umumnya. kami yakin makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Maka dari itu, mohon saran dan kritiknya dari berbagai pihak.


Jepara,     April 2014


Penulis










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii     
ILMU ASBAB AL-NUZUL........................................................................... 1
A.      Latar Belakang Masalah............................................................................ 1
B.       Pengertian Asbabun Nuzul........................................................................ 1
C.       Urgensi Mempelajari Asbab An-Nuzul..................................................... 2
D.      Ta’addud An-Nazil Wa Al-Sabab Wahid................................................. 4
E.       Cara Mengetahui Asbab An-Nuzul.................................................... ...... 5
PENUTUP........................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 8










ILMU ASBAB AL-NUZUL

A.    Latar Belakang Masalah
          Qur’an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu, kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang.
Sebagian besar Qur’an pada mulanya diturunkan untuk tujuan umum, tetapi kehidupan para sahabat bersama Rasulullah telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah atau masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui hukum Islam mengenai hal itu. Maka Qur’an turun untuk peristiwa khusus tadi atau untuk pertanyaan yang muncul itu. Hal seperti itulah yang dinamakan Asbabun Nuzul.
Asbabun nuzul merupakan suatu aspek ilmu yang harus diketahui, dikaji dan diteliti oleh para mufassirin atau orang-orang yang ingin memahami Al-Qur’an secara mendalam.
Adapun permasalah yang akan di bahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah :
  1. pengertian dari Asbab Al-Nuzul?
  2. Urgensi mempelajari Asbab Al-Nuzul.
  3. Ta’addud Al-Nazil wa Al-Sabab Al-Nuzul.
  4. Bagaimana cara mengetahui Asbab Al-Nuzul?
B.       Pengertian Asbabun Nuzul
            Secara bahasa Asbabun Nuzul terdiri dari dua kata yaitu Asbab, jamak dari sabab yang berarti sebab atau latar belakang dan Nuzul yang merupakan bentuk masdar dari anzala yang berarti turun. Pengertian Asbab An-Nuzul Secara etimologis adalah sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu atau dalam hal ini adalah sebab-sebab turun-nya ayat Al-Qur’an. Dalam pengertian sederhana turunnya suatu ayat disebabkan oleh suatu peristiwa sehingga tanpa adanya peristiwa itu, ayat tersebut itu tidak akan turun. Adapun Al-Qur’an di turunkan kepada nabi Muhammad SAW secara Mutawatir atau berangsur-angsur oleh Allah melalui malaikat Jibril. seperti dalam firman Allah SWT :
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا  ) الإسراء : 106(
Dan Al-Qur’an telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian-demi bagian . “ ( QS. Al-Isra’ : 106 ).[[1]]
     Muhammad Abdul Azim al-Zarqani, ahli ilmu tafsir, mendefinisikan asbabun nuzul sebagai suatu peristiwa yang terjadi di masa Rasulullah SAW yang setelah itu turun ayat membicarakan atau menjelaskan ketentuan hukum tentang terjadinya peristiwa.[[2]] Definisi yang berdekatan disampaikan oleh Manna’ Al-Qatthan ” Asbabunnuzul adalah suatu hal yang karenanya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status (hukum ) nya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.[[3]] Dr. Shubhi Shaleh mendefinisikan asbabun nuzul sebagai suatu perkara yang menyebabkan turunnya ayat, baik berupa jawaban, atau sebagai penjelasan yang diturunkan pada waktu terjadinya suatu peristiwa.[[4]] Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa asbabun nuzul adalah : Apa-apa yang diturunkan dalam al-Qur’an berupa jawaban atau keterangan mengenai persoalan maupun peristiwa.
C.      Urgensi Mempelajari Asbab An-Nuzul
Mempelajari dan mengetahui asbab al-nuzul merupakan kunci untuk dapat memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan baik dan benar terutama dalam upaya memahami ayat-ayat yang menyangkut masalah hukum, karena al-Qur’an memang tidaklah diturunkan dalam suatu masyarakat yang hampa budaya.[[5]]
Diantara urgensi  mempelajari asbab an-nuzul adalah:
a.         Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidak pastian dalam menangkap pesan ayat-ayat al-Qur’an, seperti pada surah Al Baqarah ayat 15, dinyatakan bahwa timur dan barat merupakan kepunyaan Allah. Dalam kasus sholat, dengan melihat dzohirnya ayat diatas, maka seakan-akan sesearang bebas menghadap kemana saja sesuai kehendak hati mereka. Namun setelah melihat asbabun nuzul dari ayat tersebut, tahapan interpretasi tersebut keliru. Sebab ayat diatas berkaitan tentang seseorang yang sedang melakukan sholat dalam perjalanan diatas kendaraan, atau berkaitan dengan orang yang berijtihad dalam menentukan arah kiblat.
b.         Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum. Seperti dalam surat Al-An’am[6] ayat 145 dikatakan:
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.”(QS. Al-an’am:145)
c.         Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat al-Qur’an.
Contoh Takhshish al-Qur’an dengan al-Qur’an : firman Allah Ta’ala :
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’” [QS. al-Baqoroh : 228]
Dikhususkan dengan firman Allah Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” [QS. al-Ahzab : 49]
d.        Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan al-Qur’an turun. Umpamanya ‘aisyah pernah menjernihkan kekeliruan Marwan yang menunjuk Abd Rahman Ibn Abu Bakar sebagai orang yang menyebabkan turunnya ayat “Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka". ”(Q.S. Al-Ahqaf: 17). Untuk meluruskan persoalan, ’aisyah berkata kepada Marwan; Demi Allah bukan dia yang menyebabkan ayat itu turun.”
e.         Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati yang mendengarkannya. Sebab hubungan sebab-akibat (musabbab), hukum, peristiwa dan pelaku,masa dan tempat merupakan satu jalinan yang mengikat hati.[[6]]
D.      Ta’addud An-Nazil Wa Al-Sabab Wahid
Maksud dari Ta’addud An-Nazil Wa Al-Sabab Wahid adalah ayat yang turun lebih dari satu sedangkan sebab turunnya hanya satu. Syaikh Manna’ Khalil Qaththan memberikan contoh yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur, Abdurrazaq, at-Tirmidzi, dan lain-lain mengatakan shahih dari Ummu Salamah, ia berkata:
“Wahai Rasululllah aku tidak mendengarkan Allah menyebutkan kaum perempuan sedikitpun mengenai hijrah. Maka Allah menurunkan:
فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّى لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَٰمِلٍۢ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍۢ ۖ فَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَأُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَأُوذُوا۟ فِى سَبِيلِى وَقَٰتَلُوا۟ وَقُتِلُوا۟ لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ثَوَابًۭا مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلثَّوَابِ  (آل عمران : 195 )
Maka Tuhan mereka mempekenankan permohonannya dengan (dengan berfirman); Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-yiakan amal orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan bagi sebagian yang lainnya..”(Ali Imran: 195)
Dan juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ath-Thabrani, dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah katanya aku telah bertanya, “Aku telah bertanya,’Wahai Rasullullah, mengapakah kami tidak disebutkan dalam al-Quran seperti para laki-laki ?’Maka pada suatu hari aku dikejutkan dengan seruan Rasullullah di atas mimbar. Beliau membacakan:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا – ( الاحزاب : 35 )
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Ahzab: 35).[[7]]
E.       Cara Mengetahui Asbab An-Nuzul
Para ahli ilmu-ilmu al-Qur’an (‘ulumul Qur’an) menyatakan bahwa karena Asbab an-Nuzul adalah peristwa-peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah SAW. Maka untuk mengetahui Asbab an-Nuzul harus melakukan periwayatan yang shahih dari para sahabat yang mendengar atau menyaksikan langsung peristiwa yang berhubungan dengan turunnya ayat-ayat tertentu atau melalui para ahli yang telah melakukan penelitian dengan cermat, baik dari kalangan tabi’in maupun ulama-ulama lainnya yang dapat dipercaya. Dalam hal ini Ibnu Sirin berkata “ Aku bertanya kepada ‘Ubaidah tentang satu ayat dari al-Qur’an, maka beliau berkata “ Bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Orang-orang yang mengetahui dalam hal apa ayat-ayat al-Qur’an diturunkan Allah telah pada meninggal “, maksudnya bahwa memahami asbabun nuzul tidak bisa semata-mata dengan logika, tetapi dengan mengetahui riwayat yang dapat dipertanggung jawabkan validitasnya. Disini kita juga menangkap sikap kehati-hatian generasi salaf dalam menerima riwayat hadist, khususnya yang berkaitan dengan asbabun nuzul, agar terhindar dari riwayat yang palsu.
Cara mengetahui Asbabun nuzul melalui periwayatan yang sahih tersebut terkadang dapat dilihat dai ungkapan perawi yang mengatakan, “sabab nuzul al-ayah kadza” (sebab turunnya ayat demikian). Ada kalanya asbabunnuzul tidak diungkap dengan kata sabab (sebab­), tetapi diungkapkan dengan kalimat “fa nazalat” (lalu turun ayat). Misalnya perawi mengatakan “su’ila an-nabiy salla Allah ‘alaihi wa sallam ‘an kadza, fa nazalat…..(Nabi SAW ditanya tentang suatu hal, lalu turun ayat…)”.
Selain itu, terkadang perawi mengungkapkan asbab an-nuzul dengan pernyataan, “nuzilat hazihil ayah fi kadza (ayat ini diturunkan dengan kasus demikian), Menurut jumhur ulama tafsir, apabila ungkapan perawi demikian, maka itu merupakan peryataan yang tegas dan dapat dieprcaya sebagai asbabn nuzul satu atau beberapa ayat al-Qur’an. Akan tetapi Ibnu Taymiyah, fakih dan mifassir Mazhab Hanbali, berpendapat bahwa ungkapan “nuzilat hadzihi ayah fi kadza” terkadang menyatakan sebab turunya ayat, namun terkadang juga menunjukkan kandungan ayat yang diturunkan tanpa asbabun nuzul.[[8]]

KESIMPULAN

Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat kami simpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.        Asbabunnuzul adalah suatu hal yang karenanya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status (hukum ) nya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.
2.        Diantara urgensi mempelajari asbabun nuzul adalah :
a.         Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidak pastian dalam menangkap pesan ayat-ayat al-Qur’an.
b.         Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
c.         Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat al-Qur’an.
d.        Mengidentifikasi pelaku yang menyebabkan al-Qur’an turun.
e.         Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati yang mendengarkannya
3.        Ta’addud An-Nazil Wa Al-Sabab Wahid adalah ayat yang turun lebih dari satu sedangkan sebab turunnya hanya satu.
4.        Cara mengetahui Asbab an-Nuzul harus melakukan periwayatan yang shahih dari para sahabat yang mendengar atau menyaksikan langsung peristiwa yang berhubungan dengan turunnya ayat-ayat tertentu atau melalui para ahli yang telah melakukan penelitian dengan cermat, baik dari kalangan tabi’in maupun ulama-ulama lainnya yang dapat dipercaya.
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, semoga dapat  menambah wawasan kita semua. Dan penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata maupun kalimat yang tidak jelas. Dan kami juga sangat mengharapkan pembaca dapat memberikan kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah ini. Sekian penutup dari kami,  semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Amien.



DAFTAR PUSTAKA


Al-Zarqani., Muhammad Abdul ‘Adzim. Manahilul ‘Irfan Fi ‘Ulumil Qur’an., Darul Fikri. Bairut, T.th.

Al-Qaththan, Manna’ Khalil, Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an. Mansyurat al-Ashri al-Hadits. Riyadl, 1973.
      , Pengantar Studi Imu al-Quran, Terjemah : Aunur Rafiq. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.

Anwar, Rasihon. ulum al Qur’an , Yogyakrta: Pustaka setia, 2008.

hamzah, Muchotob. Studi al-Qur’an Komprehensif, Yogyakarta: Gema Media, 2003.

Shaleh, Shubhi. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Alih bahasa, Cetakan III, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1992.






[[1]] budi nur 891, Asbabun Nuzul, diakses dari http : // budi nur 891. blogspot.com / 2013 / 06 / asbabun-nuzul.html,  pada tgl. 29 April 2014 pukul 08.49 WIB.
[[2]] Muhammad Abdul ‘Adzim Al-Zarqani. Manahilul ‘Irfan Fi ‘Ulumil Qur’an. Darul Fikri. Bairut, T.th, Hal. 106.
[[3]]  Manna’ Al-Qhatthan. Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an. Mansyurat al-Ashri al-Hadits. Riyadl, 1973. Hal. 77.
[[4]]  Dr. Shubhi Shaleh. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Alih bahasa. Cetakan III. 1992. Pustaka Firdaus. Jakarta. Hal. 201.
[[5]] Muchotob hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif, (Yogyakarta: Gema Media,2003) Hal. 132-133.
[[6]]Rasihon Anwar,ulum al Qur’an ,(Yogyakrta: Pustaka setia: 2008) , Hal 63-65
[[7]]Manna’ Khalil Qaththan. Pengantar Studi Imu al-Quran. Terjemah : Aunur Rafiq. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar 2006Hal. 115
[[8] ] Dr. Shubhi Shaleh Op.cit. Hal. 23.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar