BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Filsafat adalah studi tentang seluruh
fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam
konsep mendasar.[1] Filsafat tidak didalami dengan
melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan
mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan
argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses
itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan
logika bahasa.
Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa
terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu
oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu
banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.
Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh
taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk
mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu.
Proses itu mencari tahu dan ahirnya menghasilkan kesadaran, yang disebut
pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan
koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah
ilmu pengetahuan.[2]
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana sejarah filsafat yang berasal dari India?
2.
Bagaimana sejarah filsafat yang berasal dari Cina?
3.
Bagaimana sejarah filsafat yang berasal dari pandangan
Islam?
4.
Apa yang dimaksud dengan filsafat barat?
5.
Siapa saja tokoh-tokoh filsafat barat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. FILSAFAT
TIMUR
Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama
berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok, dan daerah-daerah lain yang
pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya hubungan
filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk
filsafat barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat
’an sich’ masih lebih menonjol dari pada agama. Nama – nama beberapa filosof:
Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan lain-lain.Pemikiran filsafat timur sering
dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak
kritis.[3]
Hal ini disebabkan pemikiran timur lebih dianggap agama dibanding filsafat.
Pemikiran timur tidak menampilkan sistematika seperti dalam filsafat barat.
Misalnya dalam pemikiran Cina sistematikanya berdasarkan pada konstrusksi
kronologis mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya manusia dijalin
secara runut. Belakangan ini, beberapa intelektual barat telah beralih ke
filsafat timur, misalnya Fritjop Capra,
seorang ahli fisika yang mendalami taoisme, untuk membangun kembali bangunan
ilmu pengetahuan yang sudah terlanjur dirongrong oleh relativisme dan
skeptisisme.[4]
1. Filsafat
India
Filsafat India mengusung keyakinan
akan kesatuan fundamental antara manusia (individu) dengan alam (kosmos).
Dengan demikian, tidaklah mustahil jika filsafat India bisa menjadi solusi bagi
krisis spiritual dan alam saat ini. Menurut filsafat India, harmoni yang
terjalin akan mengantarkan seseorang menjadi waskita (arif bijaksana) terhadap
hidup. Tidak terasing dari kehidupan dunia (alam semesta) dan mampu
beramah-tamah dengan semua benda di sekelilingnya. Bagaikan bersahabat dengan
gemericiknya air, kesuburan tanah yang menumbuhkan segalanya, dan sinar
matahari yang menghangatkan semesta raya.
Berikut merupakan babakan perkembangan filsafat India yang terjadi
selama lima periode besar, yaitu:
a.
Zaman Weda (2000 - 600 SM)
Filsafat India dimulai sejak bangsa Arya masuk ke India dari utara
sekitar tahun 1500 SM. Literatur suci mereka disebut Weda, yang terdiri dari
Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. Samhita memuat Rigweda (kumpulan
pujian-pujian), Samaweda (himne-himne liturgis), Yajurweda (rumus-rumus
korban), dan Artharwaweda (rumus-rumus magis). Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad
memuat komentar-komentar pada semua literatur. Upanisad merupakan yang
terpenting dari filsafat India yang sepanjang sejarah merupakan sumber yang
sangat kaya untuk inspirasi dan pembaharuan. Tema yang menonjol untuk Upanisad
adalah ajaran tentang hubungan Atman dan Brahman. Atman adalah segi subjektif
dari kenyataan, “diri” manusia. Sedangkan Brahman adalah segi objektif,
makrokosmos, alam semesta. Upanisad mengajarkan bahwa Atman dan Brahman memang
sama dan bahwa manusia mencapai keselamatan (moksa, mukti) kalau ia menyadari
identitas Atman dan Brahman.
b.
Zaman Skeptisisme (600 SM – 300 M)
Sekitar tahun 600 SM mulai suatu
reaksi baik terhadap ritualisme imam-imam maupun terhadap spekulasi hubungan
dengan korban para rahib. Para imam mengajarkan ketaatan pada kitab suci,
tetapi para rahib mengajarkan suatu metafisika di mana ketaatan ini mengganggu
kebaktian kepada dewa-dewa. Reaksi ini datang dalam berbagai bentuk. Tetapi
yang terpenting diantaranya adalah Buddhisme ajaran dari Gautama Buddha,
yang memberi pedoman praktis untuk mencapai keselamatan dan mengajarkan secara
nyata bagaimana manusia dapat mengurangi pemderitaannya dan bagaimana ia
mencapai terang budi yang membawa keselamatan. Reaksi lain adalah kebaktian
yang lebih eksklusif kepada Siwa dan
Wisnu dan juga Jainisme dari Mahawira Jina. Keduanya merupakan bentuk agama
yang menarik daripada ritualisme dan spekulasi dari imam dan para rahib.
Sebagai kontra-reformasi muncullah Hinduisme resmi enam sekolah ortodoks
(disebut ortodoks karena Buddhisme dan Jainisme yang tidak berdasarkan Weda
dianggap bid’ah). Sekolah itu adalah Saddharsana (Nyaya, Waisesika,
Samkhya, Yoga, Purwa-Mimamsa, dan Ynana). Adalah yang terpenting dari sekolah
itu adalah Samkhya (artinya jumlah) dan Yoga (dari kata “juj”, menghubungkan).
Yoga mengajarkan suatu jalan (marga) untuk mencapai kesatuan dengan ilahi.
Samkhya mengajarkan sebagai tema terpenting hubungan alam-jiwa dan
kesadaran-materi.
c.
Zaman Puranis (300 – 1200)
Setelah tahun 300, Buddhisme mulai
lenyap dari India. Pemikiran India dalam abad pertengahan dikuasai oleh
spekulasi teologis, terutama mengenai inkarnasi dewa-dewa. Contoh cerita
tentang inkarnasi dewa-dewa terdapat dalam dua epos besar, Mahabharata dan
Ramayana.
d.
Zaman Muslim (1200 – 1757)
Dua nama yang menonjol dalam periode
muslim yaitu Kabir (pengarang syair) yang mencoba mengembangkan suatu agama
universal dan Guru Nanak (pendiri aliran Sikh) yang mencoba menyerasikan Islam
dan Hinduisme.
e.
Zaman Modern (setelah 1757)
Zaman modern adalah zaman pengaruh
Inggris di India mulai tahun 1757. Periode ini memperlihatkan kembali
nilai-nilai klasik India, bersama dengan pembaharuan sosial. Nama penting dalam
periode ini adalah Raja Ram Mohan Roy (1772-1833) yang mengajarkan monoteisme
berdasarkan Upanisad dan suatu moral berdasarkan Khotbah di Bukit dari Injil,
Vivekananda (1863-1902) yang mengajarkan semua agama benar tetapi agama Hindu
paling cocok di India, Gandi (1869-1948), dan Rabindranath Tagore (1861-1941)
sang pengarang syair dan penmikir religius yang membuka pintu untuk ide-ide
luar. Sejumlah pemikir India zaman sekarang melihat banyak kemungkinan untuk
dialog antara filsafat Timur dan filsafat Barat. Radhakrishnan (1888-1975)
mengusulkan pembongkaran batas-batas ideologis untuk mencapai suatu sinkretisme
hindu-kristiani, yang dapat berguna sebagai pola berpikir masa depan seluruh
dunia. Pemikir-pemikir lain tidak begitu optimis dengan kemungkinan ini.
Menurut mereka, perbedaan antara corak berpikir Timur dan Barat terlalu besar
untuk mengadakan suatu interaksi, dalam arti “saling melengkapi”. Filsafat
India dapat belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat Barat
dapat belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos dan mengenal
identitas mikrokosmos. Mungkin, filsafat Barat terlalu duniawi sedangkan
filsafat Timur terlalu mistik.
2. Filsafat
Cina
Dalam memahami asal mula Filsafat
Cina, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama, filsafat adalah sebuah
usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-pandangan dan nilai-nilai sebagai
ekspresi dari keyakinan fundamental sekelompok orang. Karenanya filsafat tidak dapat dilepaskan dari latar belakang
budaya dan tradisi kelompok tersebut. Dalam hal ini adalah bahasa, seni,
literatur, dan agama. Yang kedua, filsafat sebagai sebuah aktivitas yang
berkelanjutan haruslah dipandang sebagai sesuatu yang muncul dari aktivitas
praktis kehidupan yang berfokus pada pemecahan masalah tentang pengetahuan yang
benar, pemahaman asali, dan penghargaan yang wajar atas berbagai masalah
kehidupan, entah secara individu ataupun sosial. Yang ketiga adalah
lebih berupa konstruksi-konstruksi teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis
ataupun kegiatan kultural dari suatu kelompok orang/masyarakat.
Filsafat Cina dikenal terbagi menjadi beberapa bagian,
bagian-bagian tersebut adalah:
a. Konfusius
Ren, adalah gagasan sentral dari
Konfusianisme yang juga merupakan kelanjutan yang lebih jernih dari gagasan
yang hidup sebelum jaman Konfusius. Ren bisa dipahami sebagai: kebaikan hati
ataupun kasih antar manusia. Kebaikan ini adalah hakikat terdalam manusia yang
membuat unsur lain (dalam hidupnya) menjadi mungkin. Menurut Konfusius ‘ren’
adalah sesuatu di dalam diri yang membuat seseorang sungguh-sungguh manusia.
Sedangkan Li mengandung arti ‘tatacara dan upacara keagamaan’,
tetapi Konfusianisme memberi arti lebih luas dari pada sekedar ritus dan
ritual, yaitu, segala sesuatu yang terkait pada tindakan tepat manusia, dan Xiao
merujuk pada tindakan antar manusia yang menumbuhkan ‘ren’ yang juga berarti
“hormat bakti yang muda terhadap yang lebih tua”.
b. Taoisme
Taoisme
diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan
Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah
yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi
abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse
lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak
metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao.
c. Mencius
dan Xunzi
Konfusianisme
bermula dari ajaran Konfusius, tetapi kemudian dibangun dan dikembangkan oleh
Mencius dan Xunzi. Seperti Konfusius, Mencius mendasarkan ajarannya pada Ren,
tapi ia menyatakan bahwa untuk membina Ren harus dikembangkan yi atau kebaikan.
“Yang disimpan dalam hati adalah ren, yang dipakai dalam tindakan adalah yi.”
Jadi, ren adalah prinsip tepat untuk mengawasi gerak internal, sedangkan yi
adalah cara tepat untuk membimbing tindak eksternal. Lebih lanjut lagi,
Ia menekankan Sistem Keluarga yang diungkap Confusius; yaitu sistim masyarakat
Tionghoa, ada 5 jenis hubungan yaitu Raja-Menteri, Ayah-Anak, Suami-Istri,
Kakak-Adik, teman-teman.[5]
3. Filsafat
Islam
Islam berasal dari kata salam
yang terutama berarti “damai” dan juga berarti “menyerahkan diri”, maka
keseluruhan pengertian yang dikandung nama ini adalah “kedamaian sempurna yang
terwujud jika hidup seseorang diserahkan kepada Allah”. Kata sifat yang
berkenaan dengan ini adalah Muslim .
Filsafat Islam digolongkan ke dalam
filsafat timur karena lebih dominan sifatnya yang menunjukkan idealisme seperti
umumnya filsafat-filsafat yang muncul di dunia timur, seperti Cina dan India.
Filsafat timur ini yang memiliki aliran idealisme utamanya bercirikan bersifat
spiritual, esensinya adalah dengan berfikir. Juhaya mengungkapkan bahwa kata idealis
itu dapat mengandung beberapa pengertian, antara lain:
“Seseorang yang menerima ukuran
moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya”.
“Orang yang dapat melukiskan dan
menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada”.
Memang pada filsafat-filsafat yang
lahir di dunia timur, kebanyakan lebih mengutamakan sisi spiritual, dalam arti
nilai-nilai keagamaan memang kerap mewarnai prinsip-prinsip dalam filsafat
timur. Dalam prinsip filsafat timur ini pada perilaku manusia adalah digerakkan
oleh nilai dan norma sehingga manusia memiliki tujuan dalam bertingkah laku.
Begitu juga filsafat yang lahir dari pemikir-pemikir Islam yang lebih
menekankan pandangannya mengenai dunia dengan berlandaskan pada nilai-nilai dan
norma-norma yang harus ditaati oleh manusia. Filsafat Islam adalah berfikir
secara sistematis, radikal dan universal tentang hekekat segala sesuatu
berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya filsafat Islam itu adalah Filsafat yang
berorientasi kepada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi
berdasarkan wahyu Allah.
Mengenai kebangkitan bangsa Arab
tersebut dengan agama Islamnya, Huston Smith (2004:254-255) mengutip juga dari
Philip Hitti yang menyatakan sekitar nama orang Arab bersinarlah lingkaran
cahaya dari kegemilangan yang dimiliki oleh para penakluk dunia. Dalam waktu
satu abad setelah bangsa ini muncul, mereka telah menjadi tuan dari suatu
daerah kekuasaan yang terbentang dari pantai Samudra Atlantik sampai ke
perbatasan Cina, yang merupakan suatu daerah kekuasaan yang lebih besar dari
kekaisaran Romawi pada zaman puncak kejayaannya. Dalam masa perluasan wilayah
yang luar biasa ini mereka “merangkul berbagai unsure asing ke dalam
kepercayaan, bahasa dan bahkan bentuk fisik mereka, lebih daripada yang pernah
atau sesudahnya, tidak terkecuali orang Yunani, Romawi, Anglo-Sakson, atau
Rusia”. Tentu saja periode yang dimaksud dalam kutipan tersebut adalah saat
pemerintahan Harun al-Rasyid.
Filsafat Islam
memiliki karakteristik sekaligus sebagai keunikan tersendiri. Setidaknya,
terdapat tiga karakteristik yang dapat kita diketemukan dalam khazanah ini,
yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi
transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ketiga karakteristik tersebut
sudah sering dikaji oleh para sarjana muslim.
Filsafat peripatetisme adalah paham kelanjutan dari pengaruh
ide-ide Aristotelian yang bersifat diskursif-demontrasional. Corak dari
Aristotelian yaitu hylomorfisme, suatu paham yang cenderung bersifat
material. Peripatetisme dimulai sejak al-Kindi, yang melewati antara lain,
al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Thufail dan Ibn Bajjah hingga Ibn Rusyd. Mungkin,
hanya Ibn Rusyd saja yang agak berani membersihkan Aristotelianisme dari
Neo-Platonisme. Filsafat iluminasi (Israqiyyah) berbicara
mengenai suatu kilatan-mendadak dalam bentuk pemahaman atau ilham sebagai suatu
arus cahaya. Asal mulanya, teori ini berakar dari pola-pola Platonik, yang
selama periode Hellenistik dan Romawi aliran ini diserap dan tergabungkan dalam
pikiran Kristiani dan Yahudi. Tokoh yang ternama dalam corak filsafat iluminasi
yaitu Surawardi. Sebagai pencetus paham iluminasi, dia telah membuka jalan
suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya-upaya religius atau mistis dalam
dunia ilmiah. Dia juga termasuk filosof yang meyakini adanya perennial
wisdom. Sebuah jalan kebenaran yang dijadikan ukuran adalah pengalaman
“intuitif” yang kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara
logis-rasional. Sementara filsafat hikmah di perkenalkan oleh
Mulla Shadra. Dia membangun aliran baru filsafat dengan semangat untuk
mempertemukan berbagai aliran pemikiran yang berkembang di kalangan kaum
muslim. Yakni tradisi Aristotelian cum Neo platonis yang diwakili
figur-figur al-Farabi dan Ibn Sina, filsafat Israqiyyah, pemikiran Irfani Ibn
‘Arabi, serta tradisi kalam (teologi dialektis). Filsafat hikmah cenderung
berbicara masalah esensi (wujud), sehingga sering disebut-sebut sebagai
eksistensialisme Islam. Aliran ini mempercayai bahwa pengetahuan diperoleh
tidak melalui penalaran rasional, tetapi hanya melalui sejenis intuisi, yakni
penyaksian bathin (syuhud, inner dalam Mujtahid, 2011:uin-malang.ac.id).
Begitulah perkembangan filsafat Islam yang telah mendapat pengaruh dari
beberapa filosof Romawi dan Yunani yang kemudian diserap menjadi beberapa
pandangan baru dari kacamata Islam. Hanya saja sedikit pengaruh-pengaruh baik
dari Aristoteles, Plato maupun Sokrates terakulturasi dalam filsafat ini.[6]
Dalam
pembahasan ini akan diulas mengenai pemikiran dua tokoh filosofi Islam, yakni:
a.
Al-Kindi (196-873 M)
Nama lengkap filsuf ini adalah
Ya’kub bin Ishaq bin al-Kindi yang lahir di Kufah dan bertempat tinggal di
Kindah, Yaman. Orangtuanya adalah Gubernur Basrah. Menurut keterangan Ibnu
al-Nadim buku-buku yang ditulisnya itu berkisar 241 buah dalam bidang filsafat,
logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optik, musik,
matematika, dan sebagainya. Dalam The Legacy of Islam dapat kita jumpai
informasi yang menjelaskan bahwa buku Al-Kindi tentang optika diterjemahkan ke
dalam bahasa latin dan banyak mempengaruhi Roger Bacon.
Pengetahuan menurut al-Kindi terbagi
menjadi dua, yakni Pertama pengetahuan Illahi atau ilm ila’hiy
(devine science) seperti yang tercantum dalam al-Qur’an, yaitu pengetahuan
langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan itu adalah
keyakinan. Kedua, pengetahuan manusiawi atau ilm insaniyy (human
science) atau filsafat yang didasarkan atas pemikiran (ration reason). Filsafat
baginya adalah pengetahuan tentang yang benar atau baths an al-haqq (knowledge
of the truth). Dari sinilah kita bisa melihat persamaan antara filsafat dan
agama. Tujuan agama dan tujuan filsafat adalah sama, yaitu menerangkan apa yang
benar dan apa yang baik. Agama, disamping wahyu, juga menggunakan akal. Adapun
kebenaran pertama, menurut al-Kindi, ialah Tuhan (Allah). Dialah al-haqq
al-awwal, the first Truth. Dengan demikian filsafat membahas soal
Tuhan, agama pun yang menjadi dasarnya Tuhan. Oleh karena itu, bagi al-Kindi,
filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan.
b.
Al-Ghazali (1059-1111 M)
Abu Hamid
Muhammad al-Ghazali lahir di tahun 1059 M, di Ghazaleh, suatu kota kecil yang
terletak di dekat Tus, Khurasan, kawasan Iran dewasa ini. Al-Ghazali dalam sejarah filsafat
Islam dikenal pada mulanya sebagai syak (skeptis) terhadap gejala-gejalanya.
Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam
atau teologi yang diperoleh dari al-Juwaini. Pada mulanya pengetahuan seperti
dalam ilmu pasti itu dijumpai al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan
panca indera, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa panca indera juga
berdusta. Sebagai upama, ia sebut bayangan (rumah) kelihatannya tak bergerak,
tetapi akhirnya ternyata berpindah tempat. Bintang-bintang di langit
kelihatannya kecil, tetapi perhitungan enyatakan bahwa bintang-bintang iu lebih
besar dari bumi. Karena al-Ghazali tidak percaya pada apanca indera lagi,ia
kemudian meletakkan kepercayaannya pada akal. Tetapi akal juga ternyata tak
dapat dipercayai. “Sewaktu bermimpi”, demikian kata al-Ghazali,”orang melihat
hal-hal yang kebenarannya diyakni betul-betul, tetapi setelah bangun, ia sadar
bahwa apa yang ia lihat benar itu sebetulnya tidaklah benar.” Tidaklah mungkin
apa yang sekarang dirasa benar menurut pendapat akal, nanti kalau kesadaran
yang lebih dalam timbul akan ternyata tidak benar pula, sebagaimana halnya
dengan orang yang telah bangun dan sadar dari tidurnya.
Al-Ghazali
mempelajari filsafat, kelihatannya untuk menyelidiki apakah pendapat-pendapat
yang diajukan filsuf-filsuf itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata
bahwa argument-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannnya
ada yang ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
Tasawuflah yang
dapat menghilangan rasa syak (keragu-raguan) yang lama mengganggu dirinya. Dalam
tasawuflah ia memperoleh keyakinan yang dicari-crinya. Pengetahuan mistiklah,
cahaya yang diturunkan Tuhan ke dalam dirinya, itulah yang membuat al-Ghazali
memperoleh keyakinannya kembali. Dengan demikian satu-satunya pengetahuan yang
menimbulkan keyakianan akan kebenarannya bagi al-Ghazali adalah pengetahuan
yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan tasawuf.[7]
B.
FILSAFAT
BARAT
Filsafat Barat adalah ilmu yang
biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan
daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi
orang Yunani kuno. Namun pada hakikatnya, tradisi falsafi Yunani sebenarnya
sempat mengalami pemutusan rantai ketika salinan buku filsafat Aristoteles
seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah
Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah
menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.
Tokoh utama filsafat Barat antara
lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Arthur Schopenhauer,
Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
Dalam tradisi filsafat Barat di
Indonesia sendiri yang notabene-nya adalah bekas jajahan bangsa Eropa-Belanda,
dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu.
Tema-tema tersebut adalah: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
1.
Tema Ontology
Ontologi
membahas tentang masalah “keberadaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan
secara empiris (kasat mata), misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk
hidup, atau tata surya.
2.
Tema Epistemology
Kata ini berasal dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos
(kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan
dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan,
bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan
keyakinan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang
berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian,
dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan
yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia
melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode
induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode
dialektis.
3.
Tema Aksiolgi
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.[8] Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos
(teori), yang berarti teori tentang nilai.
1.
Tokoh
Filsafat Barat
a.
Plato
Plato lahir
sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM, dia adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.[9] Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.
Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia,
"negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya
pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di
mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang
termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.
Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato
meninggal ketika sedang menulis).
b.
Thomas
Aquinas
Aquinas
dilahirkan di Roccasecca dekat Napoli, Italia.10
dalam keluarga bangsawan Aquino. Ayahnya ialah Pangeran Landulf dari Aquino dan ibunya bernama Countess Teodora Carracciolo. Kedua orang tuanya adalah orang Kristen Katolik yang saleh. Thomas, pada umur lima tahun diserahkan ke biara
Benedictus di Monte
Cassino agar
dibina untuk menjadi seorang biarawan. Setelah sepuluh tahun Thomas berada di Monte Cassino, ia
dipindahkan ke Naples. Di sana ia belajar mengenai kesenian dan filsafat (1239-1244). Selama di sana, ia mulai tertarik pada
pekerjaan kerasulan gereja, dan berusaha untuk pindah ke Ordo Dominikan, suatu ordo yang sangat berperan pada abad itu.
Keinginannya tidak direstui oleh orang tuanya sehingga ia harus tinggal di
Roccasecca setahun lebih lamanya. Namun, karena tekadnya pada tahun 1245, Thomas resmi menjadi anggota Ordo
Dominikan.
Sebagai
anggota Ordo Dominikan, Thomas dikirim belajar pada Universitas Paris, sebuah universitas yang sangat terkemuka pada masa itu. Ia
belajar di sana selama tiga tahun (1245 -- 1248). Di sinilah ia berkenalan dengan Albertus Magnus yang memperkenalkan filsafat Aristoteles kepadanya.[10] Ia
menemani Albertus Magnus memberikan kuliah di Studium Generale di Cologne, Perancis, pada tahun 1248 - 1252.
Pada tahun
1252, ia kembali ke Paris dan mulai memberi kuliah Biblika
(1252-1254) dan Sentences, karangan Petrus Abelardus (1254-1256) di Konven
St. Jacques,
Paris. Thomas ditugaskan untuk memberikan kuliah-kuliah dalam
bidang filsafat dan teologia di beberapa kota di Italia, seperti di Anagni, Orvieto, Roma, dan Viterbo, selama sepuluh tahun lamanya. Pada tahun 1269, Thomas dipanggil kembali ke Paris
untuk tiga tahun karena pada tahun 1272 ia ditugaskan untuk membuka sebuah
sekolah Dominikan di Naples.[11]
Dalam
perjalanan menuju ke Konsili
Lyons,
tiba-tiba Thomas sakit dan meninggal di biara Fossanuova, 7 Maret 1274. Paus Yohanes XXII mengangkat Thomas sebagai orang
kudus pada
tahun 1323.
c.
René Descartes
Lahir di La
Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal
sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode
(1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).
Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat
Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir
paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi
generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa
yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada
Eropa abad ke-17 dan 18.
Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang
revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa
seseorang bisa berpikir.
Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya
artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am).
Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia
juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat
Kartesius, yang
memengaruhi perkembangan kalkulus modern. Ia juga pernah menulis buku berjudul Rules for the Direction of the Mind.
d.
Immanuel Kant
Dia lahir
di Königsberg, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun, dia adalah seorang filsuf Jerman. Karya yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia
“membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui
manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
1. Apakah yang bisa kuketahui?
2. Apakah yang harus kulakukan?
3. Apakah yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai
berikut:
1. Apa-apa yang bisa diketahui manusia
hanyalah yang dipersepsi dengan panca indria. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
2. Semua yang harus dilakukan manusia
harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan
istilah “imperatif
kategoris”. Contoh:
orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi
peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
3. Yang bisa diharapkan manusia
ditentukan oleh akal
budinya. Inilah
yang memutuskan pengharapan manusia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ø Filsafat Barat adalah ilmu yang
biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah
jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno.
Namun pada hakikatnya, tradisi falsafi Yunani sebenarnya sempat mengalami
pemutusan rantai ketika salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge,
Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan
dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran
yang dilarang oleh Negara.
Ø Tokoh utama filsafat Barat antara
lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Arthur Schopenhauer,
Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
Ø Filsafat India mengusung keyakinan
akan kesatuan fundamental antara manusia (individu) dengan alam (kosmos).
Dengan demikian, tidaklah mustahil jika filsafat India bisa menjadi solusi bagi
krisis spiritual dan alam saat ini. Menurut filsafat India, harmoni yang
terjalin akan mengantarkan seseorang menjadi waskita (arif bijaksana) terhadap
hidup. Tidak terasing dari kehidupan dunia (alam semesta) dan mampu
beramah-tamah dengan semua benda di sekelilingnya. Bagaikan bersahabat dengan
gemericiknya air, kesuburan tanah yang menumbuhkan segalanya, dan sinar
matahari yang menghangatkan semesta raya.
Ø Dalam memahami asal mula Filsafat
Cina, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama, filsafat adalah sebuah
usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-pandangan dan nilai-nilai sebagai
ekspresi dari keyakinan fundamental sekelompok orang. Karenanya filsafat tidak
dapat dilepaskan dari latar belakang budaya dan tradisi kelompok
tersebut. Dalam hal ini adalah bahasa, seni, literatur, dan agama. Yang
kedua, filsafat sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan haruslah
dipandang sebagai sesuatu yang muncul dari aktivitas praktis kehidupan yang
berfokus pada pemecahan masalah tentang pengetahuan yang benar, pemahaman
asali, dan penghargaan yang wajar atas berbagai masalah kehidupan, entah secara
individu ataupun sosial. Yang ketiga adalah lebih berupa konstruksi-konstruksi
teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis ataupun kegiatan kultural dari suatu
kelompok orang/masyarakat (Fung Yu-Lian,2007:5) .Islam berasal dari kata salam
yang terutama berarti “damai” dan juga berarti “menyerahkan diri”, maka keseluruhan
pengertian yang dikandung nama ini adalah “kedamaian sempurna yang terwujud
jika hidup seseorang diserahkan kepada Allah”. Kata sifat yang berkenaan dengan
ini adalah Muslim (Huston, 2004:254). Filsafat Islam digolongkan ke
dalam filsafat timur karena lebih dominan sifatnya yang menunjukkan idealisme
seperti umumnya filsafat-filsafat yang muncul di dunia timur, seperti Cina dan
India. Filsafat timur ini yang memiliki aliran idealisme utamanya bercirikan
bersifat spiritual, esensinya adalah dengan berfikir.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan
FEUI
Ø P. A. Van Der Weij. 1991. Filsuf-filsuf
Besar tentang Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Ø Vardiansyah, Dani. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi. Jakarta : Suatu Pengantar, Indeks,
Ø Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004, Petualangan
Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.
Ø Mudji Sutrisno dan F. Budi Hardiman.
2005. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman.
Jakarta: BPK Gunung Mulia
Ø Bagir, Haidar. 2005. Buku Saku
Filsafat Islam. Bandung: Mizan.
Ø Praja, Juhaya.S. 2008. Aliran-Aliran
Filsafat dan Etika. Jakarta:Prenada Media.
Ø Smith, Huston. 2001. Agama-Agama
Manusia. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
Ø Takwin, Bagus. 2003. Filsafat
Timur, Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur. Jakarta: UI Press.
Ø Lan, Fung Yu. 2007. Sejarah
Filasafat Cina. Yogyakarta: Balai pelajar.
Ø Said,
Muhammad 1987. Mendidik Dari Zaman ke Zaman. Bandung: Jemmars.
Ø http://loopythecuitotter.blogspot.com/2012/12/makalah-filsafat-timur.html, diakses pada 23 oktober 2014.
[1] Irmayanti
Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. hal. 1
[2]
Bagir, Haidar. 2005. Buku Saku
Filsafat Islam. Bandung: Mizan.
[3]
Takwin, Bagus. 2003. Filsafat
Timur, Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur. Jakarta: UI Press.
[4]
Praja, Juhaya.S. 2008. Aliran-Aliran
Filsafat dan Etika. Jakarta:Prenada Media.
[5]
Lan, Fung Yu. 2007. Sejarah
Filasafat Cina. Yogyakarta: Balai pelajar.
[6]
Said,
Muhammad 1987. Mendidik Dari Zaman ke Zaman. Bandung: Jemmars.
[7]
Smith, Huston. 2001. Agama-Agama Manusia.
Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
[8] Vardiansyah,
Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008.
Halaman 91
[9] Tjahjadi,Simon
Petrus L., Petualangan Intelektual Yogyakarta: Kanisius.2004
[10] Susan Lynn
Peterson. Timeline Charts of The Western Church. 1957. Michigan. Penerbit:
Zondervan Publishing House
[11] Mortimer
J.Adler (ed.). Great Books of The Western World: 17 Aquinas:1. 1952. London.
Penerbit: Encyclopedia Britannica, Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar