MAKALAH
FILSAFAT
PENDIDIKAN
Disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah filsafat pendidikan

Disusun Oleh :
Ali Mudhoffar
NIM :
UNIVERSITAS
NAHDLATUL ULAMA’ (UNISNU) JEPARA
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah
berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk
Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta
hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah dengan judul ”Filsafat Pendidikan”.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, kasih, dan
kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat
lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi
semua pembaca.
Jepara, 05 September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………... 2
DAFTAR ISI …………………………………………………………… 3
BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………………. 4
A. Latar Belakang ………..……………………………………….. 4
B. Permasalahan …………………………………………………… 5
C. Manfaat …………………………………………………………. 5
BAB II : PEMBAHASAN …………………………………. ………… 6
A. Definisi Filsafat Pendidikan …..………………………........... 6
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan ………………………….. 7
C. Pendekatan
Filosofi Dalam Pemecahan Masalah Pendidikan ……... 8
D. Hubungan
Filsafat dan Teori Pendidikan ………………………….. 10
BAB III : PENUTUP ………………………………………………….. 13
A.
Kesimpulan …………………………………………………….. 13
B.
Saran ……………..…………………………………………….. 13
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Istilah filsafat berasal dari dua suku kata
dalam bahasa Yunani kuno, yaitu phile atau philos yang berarti
cinta atau sahabat, dan sophia atau sophos yang berarti
kebijaksanaan. Kedua suku kata tersebut membentuk kata majemuk philosophia.
Dengan demikian, berdasarkan asal usul philosophia (filsafat) berarti
cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan. Karena istilah
philosophia dalam bahasa Indonesia identik dengan istilah filsafat, maka untuk
orangnya, yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan disebut filsuf.
Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat
diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata
filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut
Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan.
Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh
kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih memperoleh
kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai
“Himbauan kepada kebijaksanaan”.
Di zaman Yunani, filsafat bukan merupakan suatu
disiplin teoritis dan spesial, akan tetapi suatu cara hidup yang kongkret,
suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan tentang alam yang
menyinari seluruh kehidupan seseorang. Selanjutnya, dengan kehidupan atau
perkembangan peradaban manusia dan problema yang di hadapinya, pengertian yang
bersifat teoritis seperti yang di lahirkan filsafat Yunani itu kehilangan
kemampuan untuk memberi jawaban yang layak tentang kebenaran peradaban itu
telah menyebabkan manusian melakukan loncatan besar dalam bidang sains,
teknologi, kedokteran dan pendidikan.
Perubahan itu mendorong manusia memikirkan
kembali pengertian tentang kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam
peradaban akan berpengaruh terhadap sistem nilai yang berlaku, karena antara
perubahan peradaban dengan cara berfikir manusia terdapat hubungan timbal
balik.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan
potensi-potensi manusiawi peserta didik, baik potensi fisik, potensi cipta,
rasa maupun karsanya agar dasar kependidikan adalah cita-cita kemanusiaan
universal. Karenanya pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam
keseimbangan, kesatuan, organis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup
kemanusiaan, melalui filsafat kependidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat
yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
B.
Permasalahan
- Apa yang dimaksud filsafat pendidikan
- Apa saja ruang lingkup filsafat pendidikan
- Pendekatan Filosofi Dalam Pemecahan Masalah Pendidikan
- Hubungan Filsafat dan Teori Pendidikan
C.
Manfaat
- Dapat menjadi suatu bekal bagi para pendidik untuk menghadapi masalah dalam pendidikan.
- Mahasiswa agar dapat memahami secara menyeluruh mengenai filsafat pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Filsat
Pendidikan
Filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran
yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur,
menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan
dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk
mencapainya. Dalam hal ini, filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman
kemanusiaan merupakan faktor yang integral. Filsafat pendidikan juga bisa didefinisikan
sebagai kaidah filosof dalam bidang pendidikan yang menggambarkan aspek-aspek
pelaksanaan falsafah umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan
secara peraktis.
Menurut Jhon Dewey, filsafat pendidikan
merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fudamental, baik yang
menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional) menuju
tabiat manusia. Menurut Imam Barnadib filsafat pendidikan merupakan ilmu uang
pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang
pendidilkan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi suatu analisis
filosof terhadap pendidikan.
Untuk mendapatkan pengertian filsafat
pendidikan yang lebih sempurna (jelas), ada baiknya kita melihat beberapa
konsep mengenai pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah bimbingan
ecara sadar dari pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani anak
didikmenuju terbentuknya manusia yang memiliki yang utama dan ideal.
Dalam pandangan Jhon Dewey, pendidikan adalah
sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fudamental, yang
menyangkut: daya pikir (intelektual) maupun daya rasa (emosi). Dalam hubungan
ini Al-Syaibani menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha mengubah tingkah laku
individu dalam kehidupan pribadinya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat
dan kehidupan alam sekitarnya.
Dengan demikian, dari uraian di atas dapat kita
tarik suatu pengertian bahwa filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan
normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma-norma dan atau
ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam
hidup dan kehidupannya.
Filsafat, jika dilihat dari fungsinya secara
peraktis, adalah sebagai sarana bagi manusia untuk dapat memecahkan berbagai
problematika kehidupan yang dihadapinya, termasuk dalam problematika dalam
pendidikan. Oleh karena itu di simpulkan bahwa filsafat merupakan arah dan
pedoman atau pijakan dasar bagi ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban
dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan yang merupakan penerapan
analisis filosofis dalam lapangan pendidikan .
B.
Ruang Lingkup
Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah studi secara kritismengenai
masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusia dan merupakan alat dalam
mencari jalan keluar yang terbaik agar dapat mengatasi semua permasalahan hidup
dan kehidupan yang dihadapi. Dalam pengertian yang luas, filsafat bertujuan
memberikan pengertian yang dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep
hidup secara ideal dan mendasar bagi manusia agar mendapatkan kebahagian dan
kesejahteraan.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa
ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia yang
komprehensif. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar-benar ada (nyata), baik
material konkret maupun nonmaterial (abstrak). Jadi, objek filsafat itu tidak
terbatas.
Secara makro, apa yang menjadi objek pemikiran
filsafat, yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta, dan alam
sekitarnya, juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan. Namun secara
mikro, ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:
1.
Merumuskan secara tegas sifat hakikat
pendidikan (the nature of education)
2.
Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai
subjek dan objek pendidikan (the nature of man).
3.
Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat,
filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.
4.
Merumuskan secara hubungan antara filsafat,
filsafat pendidikan, teori dan pendidikan.
5.
Merumuskan hubungan antara filsafat negara
(ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan)
6.
Merumuskan sistem sistem nilai-norma atau isi
moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Dengan demikian, dari uraian di atas diperoleh
suatu kesimpulan bahwa yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan ialah
semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami
hakikat pendidikan yang baik dan bagai mana tujuan pendidikan itu dapat dicapai
seperti yang di cita-citakan.
C.
Pendekatan
Filosofi Dalam Pemecahan Masalah Pendidikan
Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma
yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu
yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis
adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang
nampak.
Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu
masalah dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn
pendidikan. Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, melainkan juga
melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan
untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964)
berpendapat bahwa filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan. Filsafat
sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang
bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.
Filsafat
pendidikan sebagai filsafat terapan, yaitu studi tentang penerapan asas-asas
pemikiran filsafat pada masalah-masalah pendidikan pada dasarnya mengenal dua
pendekatan yang polaritis, yaitu :[1]
- pendekatan tradisional,
- pendekatan progresif.
Pengertian
masing-masing pendekatan dan variasi pendekatan daripadanya dan aliran-aliran
filsafat pendidikan dihasilkannya akan dijelaskan di bawah ini:
1.
Pendekatan Tradisional
Pendekatan
tradisional dalam Filsafat pendidikan melandaskan diri pada asas-asas sebagai
berikut:
1)
Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah filsafat,
sehingga untuk mempelajari filsafat pendidikan haruslah memiliki pengetahuan
dasar tentang filsafat.
2)
Bahwa kenyataan yang esensial baik dan benar adalah
kenyataan yang tetap, kekal dan abadi.
3)
Bahwa nilai norma yang benar adalah nilai yang
absolut, universal dan
4)
Bahwa tujuan yang baik dan benar menenukan alat
dan sarana, artinya tujuan yang baik harus dicapai dengan alat sarana yang baik
pula.
5)
Bahwa faktor pengembang sejarah atau sosial
(science, technology, democracy dan industry) adalah sarana alat untuk
prosperity of life dan bukannya untuk welfare of life sebagai tujuan hidup dan
pendidikan sebagaimana yang ditentukan oleh filsafat.
2.
Pendekatan Progresif
Sebagai
penghujung yang lain dari pendekatan di atas dan dari kontinuitas aliran
filsafat pendidikan adalah pendekatan progresif kontemporer dengan dasar-dasar
pemikiran sebagai berikut:
1)
Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah sosiologi,
atau filsafat sosial humanisme ilmiah, yang skeptis terhadap kenyataan yang
bersifat metafisis transendental.
2)
Bahwa kenyataan adalah perubahan, artinya
kenyataan hidup yang esensial adalah kenyataan yang selalu berubah dan
berkembang.
3)
Bahwa truth is man-made, artinya kebenaran dan
kebajikan itu adalah kreasi manusia, dengan sifatnya yang relatif temporer
bahkan subyektif.
4)
Bahwa tujuan dan dasar-dasar hidup dan
pendidikan relatif ditentukan oleh perkembangan tenaga pengembang sosial dan
manusia, yang merupakan sumber perkembangan sosial masyarakat.
5)
Bahwa antara tujuan dan alat adalah bersifat
kontinu, bahwa tujuan dapat menjadi alat untuk tujuan yang lebih lanjut sesuai
dengan perkembangan sosial masyarakat.
D.
Hubungan
Filsafat dan Teori Pendidikan
Hubungan antara filsafat dan teori
pendidikan sangatlah penting sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu
sistem pendidikan.[2]
filsafat pendidikan merupakan aktivitas
pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun
proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan
nilai-nilai dan tujuan yang ingin di capai[3]
Sebagaimana telah di kemukakan bahwa tidak
semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah
semata-mata. Banyak diantara masalah-masalah kependidikan tersebut yang
merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, analisa filsafat terhadap
masalah-masalah pendidikan tersebut, dengan berbagai cara pendekatannya, akan
dapat menghasilkan pendangan-pndangan tertentu mengenai masalah-maslah
kependidikan bisa tersebut. Dan atas
dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan . disamping itu
jawaban-jawaban yang telah di kemukakan oleh jenis dan aliran filsafat
tertentusepanjang sejarah terhadap problematika kehidupanyg dihadapinya
menunjukkan pandangan-pandangan tertentu yang tentunya juga akan memperkaya
teori-teori pendidikan. Dengan demikian terdapat hubungan fungsional antara
filsafat dan teori pendidikan
Hubungan fungsional antara filsafat dan teori
pendidikan teori pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut
1.
Filsafat, dalam arti analisa
filsafat adalah merupakan salah satu cara Pendekatan yang digunakan oleh para
ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-
teori pendidikannya, disamping menggunakan metode- metode ilmiah lainnya.
Sementara itu dengan filsafat, sebagi pandangan tertentu terhadap sesuatu
obyek, misalnya filsafat idelisme, realisme, materialisme dan sebaginya, akan
mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori- teori pendidikan yang
dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori- teori pendidikan yang
di kembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori-
teori dan pandangan- pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh
fillosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan
airan filsafat yang dianutnya.
2.
Filsafat, juga berpungsi memberikan arah agar
teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan
dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan
kehidupan nyata.artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat
pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek
kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang
dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap
masyarakat hidup dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang
berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat
pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu
juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dan relevan dengan
kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
3.
Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan,
juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan
teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek
kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan
tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan
kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada
dalam suatu masyarakat tertentu. Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa
dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk
selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang
realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik).
Di
samping hubungan fungsional tersebut, antara filsafat dan teori pendidikan,
juga terdapat hubungan yang bersifat suplementer,[4]
sebagai berikut :
sebagai berikut :
1.
Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan
tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakikat manusia, serta konsepsi
hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
2.
Kegiatan merumuskan sistem atau teori
pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan,
kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan
pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam
pembangunan masyarakat dan Negara
Definisi di atas merangkum dua cabang ilmu
pendidikan yaitu, filsafat pendidikan dan system atau teori pendidikan, dan
hubungan antara keduanya adalah bahwa yang satu “supplemen” terhadap yang lain
dan keduanya diperlukan oleh setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya
sebagai pengajar di bidang studi tertentu”. [5]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan
normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma-norma dan atau
ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam
hidup dan kehidupannya.
2.
Ruang lingkup filsafat pendidikan ialah semua
aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat
pendidikan yang baik dan bagai mana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti
yang di cita-citakan.
3.
Filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat
suatu hubungan yang erat sekali dan tak terpisahkan. Filsafat pendidikan
mempunyai peranan yang amat penting dalam sistem pendidikan karena filsafat
merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan,
meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
B.
Saran
Semoga dengan penulisan makalah ini dapat
bermanfaat dan dijadikan sebagai modal dalam mempelajafi filsafat. Jadikanlah
filsafat sebagai penentuan terhadap penentuan hidup dan pegangan fundamental
dalam memecahkan masalah politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya yang
terjadi dalam masyarakat yang setiap saat berubah dan berkembang dalam konteks
akselerasi dan medernisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ihsan, hamdani
dan Ihsan fuad. filsafat pendidikan islam. Bandung. Pustaka Setia.2001
Zuhairini.filsafat
pendiikan islam. Jakarta. Bumi Askara. 2009
Dr.H.Wr.
Hendra Saputra,M.Hum. 2008. Pengantar Filsafat Pendidikan. PSB FKIP
UHAMKA: Jakarta
Tatang
Syarifudin, 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Percikan Ilmu:
Bandung
http://pendidikanadministrasi.blogspot.com/2012/01/filsafat-dan-teori
pendidikan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar